Catatan ini merupakan catatan personal saya setelah mengombinasikan berbagai macam peristiwa menjadi satu catatan. Saya tergerak untuk membuat catatan ini karena kemarin hari saya menonton sebuah pertunjukan teater, berupa monolog. Ya, Monolog Inggit, istri yang senantiasa setia dalam perjuangan BK di masa menuju kemerdekaan bangsa ini.
Sejarah memang mencatat orang-orang ‘penting’ saja, walau nyatanya ia
tak benar-benar penting. Walau nyatanya ia bukan benar-benar seorang pahlawan. Siapa yang mencatat sejarah? Apakah rekan dekat ‘pahlawan’ atau siapakah ia? Saya tak berupaya untuk menggugat siapapaun, karena sebetulnya di balik satu peristiwa, terdapat berbagai macam peristiwa lainnya yang mengikuti.
Saya tersentak sebetulnya dengan karakter Ibu Inggit. Sering kali saya melewati rumah kenangan beliau. Yang membuat saya berpikir adalah, “apakah benar ini rumah seorang perempuan yang pernah jadi istri presiden pertama kita?” Rumah yang begitu mungil di kawasan Pasar Astana Anyar.
Inikah rumah seorang perempuan yang pernah menyelundupkan buku-buku istimewa ke Penjara Banceuy sehingga lahirlah pledoi BK yang terkenal itu: Indonesia Menggugat? Inikah rumah seorang perempuan yang menjaga kestabilan emosi dan semangat BK pada masa awal perjuangan beliau? Inikah rumah seorang perempuan yang dibuang ke daerah perasingan demi menemani suami tercintanya? Inikah rumah seorang perempuan yang bukan hanya dengan caranya sendiri memperjuangkan kemerdekaan tapi juga dengan materi yang ia miliki? Inikah rumah seorang perempuan yang tanpa keluhan ia menjaga makna keperempuanannya? Inikah rumah beliau?
Sebuah rumah di kawasan perkotaan, lebih dekat ke pasar, dimana terdapat banyak emperan pedagang barang-barang bekas. Ini rumah beliau.
Entah mengapa, selama menonton pertunjukan itu saya merasakan energi yang aneh, mungkin saya hanya merasa bahwa beliau-Ibu Inggit-tengah tersenyum kepada hadirin. Saya merasakan suatu energi yang begitu meledak ketika menontonnya, begitu tidak lemahnya beliau, begitu tak pernah beliau merasakan untung-rugi dalam cintanya, begitu beliau paham makna mencintai, begitu beliau sangat mencintai rakyat melalui suami tercintanya.
Hanya saja, 3 tahun sebelum bangsa kita merdeka, beliau diceraikan, karena tak dikarunia tubuh seorang ibu. Namun, saya melihat potret senyumannya begitu tulus dan tak gentar. Begitu bahagianya kedua pasangan itu yang berada di payung asmara. Begitu indah perjuangan bersama yang mereka lakukan dalam susah maupun senang, dalam impian yang ingin dibangun bersama. Akan tetapi, lamunanku terhenti, ketika saya mengingat perbincangan saya dengan Bebe.
Bebe waktu itu berkata, barang kali dalam perjuangan yang dilakukan oleh BK terdapat perjuangan perempuan-perempuan di dalamnya. Dari materi, menuju ke yang bersifat intelektual, menuju tahta yang bersifat kecantikan, dan sebagainya. Saat itu saya hanya tersenyum. Namun, kini saya berkata, apakah adil semua pernikahan yang dilakukan berkali-kali itu? Apakah cukup makna cinta hanya dilihat dari fungsinya? Fungsi material, fungsi intelektual, fungsi tahta kecantikan, dan lain-lain? Apakah itu semua adil? Apakah Ibu Inggit pernah mengeluhkan kekurangan suaminya? Ah, beliau tahu benar ‘kekurangan’ suami beliau, tapi apa ia pernah berpikir untuk menampik semua cinta yang telah mereka bangun bersama? Beliau bertahan dalam kekurangan suaminya, beliau bertahan atas nama cinta yang lebih tinggi dari sekedar hubungan manusia. Dengan kekurangan suaminya pun, Ibu Inggit bertahan untuk menemukan cara artikulasi yang bijaksana untuk ‘menutupi’ kekurangan-kekurangan itu. Kenapa BK melihat kekurangan pada perempuan lain dan menutupinya dengan kelebihan dari perempuan lain? Mengapa begitu? Mengapa tak ada kata toleransi dalam melihat kekurangan itu dan kemudian mencari cara lain yang jauh lebih bijaksana ketimbang menemukan perempuan lain?
Saya tak menjelek-jelekan beliau. Karena banyak sekali alam pengetahuan lelaki yang tak saya pahami. Tapi, berpikirlah, bahwa setiap manusia mengalami kekurangan....
Hingga akhirnya, saya kemudian tersadar akan peristiwa di masa lalu lainnya, ketika saya dan Bebe berbicara dengan seorang pedagang buku yang senang bercerita tentang BK. Pedagang buku itu mengutip tulisan BK: Jangan pernah menyakiti perempuan! Saya mendengar hal tersebut dua kali, dalam kesempatan yang berbeda, di tempat yang berbeda, dengan orang-orang yang sama.
Setelah menonton monolog itu, saya berpikir keras tentang kutipan pedagang buku tersebut. Saya berpikir keras. Apakah pernyataan BK tersebut menyatakan suatu kesungguhan dan kehebatan yang luar biasa bahwa ada cara menikahi banyak perempuan tanpa membuat perempuan-perempuan lainnya tersakiti atau apakah itu bentuk penyesalan BK-karena beliau khawatir telah ‘menyakiti’ banyak perempuan?
Pertanyaan saya sebelum menonton monolog itu akhirnya terjawab dengan pertanyaan yang saya tuliskan di atas. Ah, teman saya bilang: hanya BK dan Tuhan saja yang tahu. Saya kemudian ingin berteriak saja rasanya, hehehe.
Jumat, 23 Desember 2011
Kamis, 21 Juli 2011
Ruang Satu

Kamar. Pagi pukul 7.30
Berbaring diatas tempat tidur. Menatap langit-langit kosong.
Goresan-goresan kecil pada dinding kamar membentuk sebuah siluet yang mengingatkannya pada pohon di pinggir jalan itu yang sedang ditebang untuk pelebaran jalan.(menggerutu ) keteduhan dirubuhkan diganti tiang-tiang. Nilai lama ditebang, nilai baru ditegakan. Penerangan dan jalan yang lebar. Kesempitan dan kegelapan, itukah masalahnya sekarang?
Lampu redup, sebatang korek api tergeletak di lantai kamar terpisah dari rombongannya.
Beranjak bangun. Duduk di samping tempat tidur. Memungut sebatang korek api tadi. Menatapnya.
(berbicara sendiri) Kesepiankah kamu?
Memutar-mutar dengan jari, berpikir.
Dalam kotak mungkin si batang korek ini jadi merasakan kesempitan, berdesakan dan jadi mempunyai jarak dengan batang korek lainnya, padahal sebelumnya batang-batang ini adalah satu.
Kamu bertanya pada sebelah, belakang dan depanmu. Kita dimana? Dimana daun-daun kita? Kenapa gelap? Sebelah, belakang dan depanmu pun menanyakan hal yang sama kepadamu.
Kotak terbuka. Terdengar keributan, sebelah, belakang dan depanmu, bersorak.
Bahagia melihat cahaya meski tak lama, satu dari rombonganmu, dijepit dibawa naik keatas oleh sesuatu yang kamu dan rombonganmu tak mengetahuinya. Semua yang didalam terdiam.
Apakah itu?
Tak dijawab...
Entah bagaimana kamu bisa terpisah dengan rombonganmu, tergeletak dilantai kamar ku, dibawah kamu memperhatikan sekeliling, merenung, menebak-nebak.
kepulan asap rokok menghembus memadamkan api yang membakar sebatang pematuk api. Di luar kotak kamu memperhatikan tak bisa menyimpulkan.
Sesuatu menjepitmu, kamu dibawa naik keatas. Sebuah kotak terbuka, kamu dimasukan kedalamnya, bergabung kembali dengan rombonganmu.
Kamu pun jadi mengetahui, karena
ketika terangkat naik ke atas tadi sekilas kamu melihat kebawah, melihat beberapa dari rombonganmu tergeletak didalam asbak, hangus.
Didalam rombonganmu bertanya. Kenapa hanya kamu yang kembali? Dimana yang lain? Kamu dibawa kemana? Apakah diluar sana kamu melihat daun-daun, tanah dan sinar matahari?
Bukan..bukan! (katamu) itu sinar lampu, bukan matahari.
Bukan?
Kembali semua terdiam, mendengarkan ceritamu tentang asbak.
***
Ia lihat dirinya sendiri di cermin.
Segala yang dilihatnya adalah dirinya sendiri.
Sepi…
(berbicara sendiri) Saya menyambut gembira hari ini.
Siang nanti di suatu tempat di tengah kota, saya jalani waktu-waktu baru yang saya sepakati sebagai jam kerja.
Kerja…Kerja…Kerja, oh alangkah indahmu.
Bukankah sekarang hari minggu,tak perlu repot membawa perasaan takut ditilang.
Hari ini bebas rajiaaaaaaaa!
Cukup bawa kesanggupan dan sebuah buku yang berisi trik praktis beradaptasi.
Hihi, si adaptasi..Kamu memang keset-keset asem. Gampang-gampang susah, susah-susah
gampang.
Untuk hal baru, suasana baru, keadaan baru, bahkan sedetik setelah bangun tidur, saya masih merasa perlu beradaptasi.
Apa maksudnya: ruang dan waktu menipu?
***
Yang lama terasa baru, yang baru terasa asing tak banyak yang saya tahu.
Waktu berputar, langkah-langkah kecil di gang terdengar, suara pedagang memecah keheningan. Di kamar pikiran meloncat-loncat tak mau diam.
Ruang Dua (ruang-waktu satu)

IDEALNYA: Segepok lembar kertas jadi buku. Segepok buku jadi kumpulan buku yang memenuhi lemari, laci, meja, dan kasur. Segepok. Buku. Aku merasa tidak akan dipuja ko, kata si segepok dan si buku. Benar saja ucapan si segepok dan si buku itu, karena yang dipuja-puja, dikagumi, dikritik, ditertawakan, dibanggakan, disantet, dan dielu-elukan adalah yang bikin tulisan di dalam si segepok dan si buku; yang mengkreasi.
***
NYATANYA: Yang mengkreasi bilang sama si segepok dan si buku: kalian jangan ge-er! Aku yang menuliskan tinta-tinta itu menjadi kata, aku yang mengubah kata menjadi pikiran, aku yang mengubah pikiran menjadi rasa, aku yang menetapkan rasa jadi kenangan, dan hanya aku-aku-aku yang bisa melakukannya! Kalian itu hanya media. Titik. Jadi, kalian berdua itu jangan ge-er alias gede rasa! Mengerti?
Tapi, kami punya keyakinan diri kalau saja orang-orang itu mengagumi kami. Lihat saja, mereka tertawa, sedih, senyum, kaget, jijik, dan muak karena kami; karena melihat kami! Bagaimana?
Itu simpelnya, jawab yang mengkreasi. Orang-orang cuma tahu mana yang merangsang dan bagaimana merespon si rangsangan. Tek-tok-tek-tok gitu. Tapi, apa kalian berdua memikirkan apa yang ada di balik itu? Sumber! Sumber!
Tidak mengerti, jawab si segepok dan si buku sambil ongkang-ongkang kaki. Kami hanya yakin bahwa kami luar biasa-mampu meluluhlantakkan pikiran dan perasaan banyak orang semau kami. Baca halaman ini, mereka nangis. Baca halaman itu, mereka langsung tertawa. Lihat? Kami keren.
Begitukah? Tanya yang mengkreasi.
Si segepok dan si buku mengangguk.
Bagaimana kalau aku menuliskan yang lain? Bagaimana jika aku ingin mengubah yang bahagia jadi sedih. Yang sedih jadi bahagia. Yang pasti jadi tidak pasti. Yang tidak pasti jadi pasti. Yang baik jadi jahat. Yang jahat jadi baik. Semua kulakukan karena kehendakku. Aku bisa mengambil kebersamaan kalian dan memberinya pada orang lain yang terpisah; aku memisahkan kalian. Bagaimana? Dan kemudian orang-orang akan kecewa dengan kalian, kaget, tidak percaya.
Kami tidak paham, yang mengkreasi...
Itu semua karena otak kalian seperti otak amfibi, dangkal. Rasa kalian, sebiji jagung. Intuisi kalian, salah tebak mulu. Gede rasa seperti kataku.
Ah, masa.....? ejek si segepok dan si buku.
Tidak percaya, begini saja. Aku ingin menuliskan, kalian terpecah belah saja dulu. Si segepok yang dulu kulihat minder mulu, kusibukkan ia dengan beragam kegiatan. Si buku biar dia ngerasain peran menunggu Godot. Aku ambil kebersamaan kalian, kuberikan pada yang terpisahkan; kalian jadi pisah sekarang. Si buku biar lembar-lembar di dalam dirinya lepas, putus. Aku minta dia belajar untuk mengumpulkan lembar-lembar itu hingga suatu saat aku lihat apa dia udah memenuhi syarat atau tidak untuk kukumpulkan denganmu lagi, si segepok.
Yang benar saja, yang mengkreasi? Kata si buku.
Yes, aku bisa lega sekarang, buk. Kata si segepok.
Ya, ini kehendakku. Kalian manut saja, makanya jangan kepede-an, lupa diri, lupa sumber. Tahu aku, tapi ga benar-benar bisa menempatkan aku di pikiran dan hati kalian. Goblok!
Si buku : Ampuuuuuuuuuuunnnnnnnn............
Si segepok : Yeeesssssssss...................
***
(Kini tinggal ada si buku dan yang mengkreasi)
Sekarang aku kasih kamu peran menunggu Godot. Kemarin kamu sombong sekali engga bisa ngerasain apa yang dialami peran-peran menunggu Godot. Kamu sekarang ada di ruang ini. Ah, bukan hanya ruang, tapi juga ruang-waktu. Karena kamu percaya kan kalau ruang-waktu tidak terpisahkan?
Ya, jawab si buku. Terus, apa aku bisa dikembalikan atau bareng lagi sama si segepok?
Lihat dulu sekelilingmu, harus ada yang kamu lakukan. Pecah-pecah saja yang jadi topeng, buka isinya. Mengerti dulu apa yang kamu lakukan dan jalankan. Jangan ngoyo kayak tai di comberan. Jangan maksa kayak pemerkosa. Kamu harus jernih-jernih-jernih! Cring! Soal kamu balik lagi sama si segepok yah urusanku, mutlak. Paling aku akan bisik-bisik dikit dengan si segepok. Ya, mengerti? Itu urusanku. Kamu ga perlu repot-repot, okey? Okey dong.
Okelah kalau begitu, eh, kamu, yang mengkreasi, kamu memang Maha Asyik! Si segepok memang asyik tapi engga seasyik kamu; memang kamu sejatinya yah! Cihuy! (Si buku lari-lari riang walau ia dapat peran Godot).
Ruang Tiga: Ruang Dalam

Kaki kanan. Kaki kiri. Mereka melenggok ke kanan dan kemudian ke kiri. Mereka bersama-sama, tapi tidak berbarengan. Ketika yang kanan ke depan, yang kiri ada di belakang. Ketika yang kiri di depan, yang kanan ada di belakang. Hanya ketika diam tak berjalan saja, mereka akan sama-sama berbarengan. Mengapa demikian? Mereka hanya menjawab: hening, itulah saat kami saling melengkapi di suatu ruang.
Ruang yang manakah? Ruang angkasa? Ruang tamu? Ruang makan? Ruang langit? Ruang air? Ruang tanah? Ruang apa? Yang seperti apa?
Di saat diam itulah, kaki kanan dan kaki kiri menjawab serempak apa nama ruang tersebut, namanya adalah RUANG DALAM!
Ada lubang dalam di hati
Ada hati kosong di ruang
Ada ruang dalam di lubang
Ada lubang kosong di hati
Ada hati dalam di ruang
Ada ruang kosong di lubang
Lubang ruang hati ada dalam kosong
Masih adakah puisi di hatimu?
Atau ayat-ayat-Mu kah yang terlalaikan?*
Di ruang dalam itu kami diam, maka dari itu, kami akan menjadi hening kemudian. Di situ kami mengenal berbagai rasa, semacam melompat jauh ke memori di masa lalu dan kemudian terbang kesini; berlari jauh ke memori itu dan kemudian loncat kembali kesini. Kami akan sangat merasa tidak cocok jika yang kanan ke depan dan yang kiri akan ke belakang, begitupun juga sebaliknya. Tapi, kami membuat semacam ruang, yang kami sebut sebagai ruang dalam, di mana disitu Ada yang mengisi. Kami tak boleh sedikit pun lalai, jika saja kami lalai sekali, maka ruang dalam kami kosong; kami akan saling membenci. Itulah kami yang bersama tapi tak berbarengan, namun, hanya dalam hening saja kami akan bersama dan juga berbarengan. Ini rahasia kami; Ada yang mengisi.
Bukan. Bukan berpisah. Karena kami adalah kaki-kaki yang memang dibuat berpasangan. Jadi, kami memang akan terus bersama meski tak berbarengan. Dan puncaknya memang hanya dalam hening di ruang dalam, itulah saat kami berbarengan.
*Puisi karya M. Syaom Barliana, pengajar psikologi dan posmodernisme.
Selasa, 07 Juni 2011
Ngulat Ngulu

“Munculnya ulat bulu tidak sebagaimana biasanya telah menimbulkan kepanikan warga di sejumlah daerah di tanah air. Bahkan, para pejabat di daerah kini cenderung frustrasi menghadapi serbuan ulat yang tidak hanya ganas melahap dedaunan tapi juga mulai berani masuk ke rumah penduduk, ruang sekolah bahkan perkantoran pemerintah. Kehadiran ribuan ulat bulu memang fenomenal. Sebab ulat tersebut semula hanya muncul di Kabupaten Probolinggo, namun dalam beberapa hari telah muncul di beberapa kota di Jawa dan konon juga hadir di Sumatera Utara. Seperti biasa, menghadapi fenomena alam yang tak lazim ini, berbagai kajian dan analisis, baik bersifat ilmiah, semi ilmiah, tradisional bahkan berbau klenik pun bermunculan. Ada yang mencoba menghubungkannya dengan kerusakan ekosistem, perilaku manusia yang tidak ramah lingkungan, fenomena perubahan iklim dan pemanasan global, tapi tak sedikit pula yang memandang peristiwa ini sebagai kutukan dari Tuhan.”
Demikian pers memberitakan.
…
Seperti tak mau ketinggalan, Jang Kendi juga ikut-ikutan menganalisis (masih berbau klenik yang a la kadarnya) fenomena yang sama. Pemuda likuran asal Dusun Kelokan ini merasa gatal ingin mempresentasikan hasil kajiannya. Bersama Neng Sindi, mahasiswi semester tujuh yang kebetulan sedang alergik sama tugas-tugas kuliyahnya, mereka rajin menggelar diskusi dadakan yang steril dari kehadiran sponsor perusahaan minuman lokal milik pak erwe.
Dalam diskusi yang hanya dihadiri mereka berdua itu, seringnya keduanya kesulitan ketika tak menemukan semacam formula-komunikasi yang enak dibaca, agar catatan hasil didiskusian mereka tak seperti ‘bulu-bulu ulat’ yang akan membikin pembaca gatal-gatal. Mereka juga takut dianggap lancang karena nekat mempresentasikan bentol-bentolnya (disekitar pantat) -akibat selalu ditakuti pemberitaan serangan ulat bulu- ke muka umum.
Apalagi pemuda pengangguran itu tak pernah jelas sikapnya, jika sedang didalam kelompoknya dia bagai oposan yang tak setuju dengan rencana pak erwe yang akan mendatangkan tim pembasmi ulat kondang asal Dusun seberang yang biayanya diambil dari Dana Dusun. Berbeda jika dirinya sedang berada di dalam rapat karang taruna, ia bagai antek erwe yang setuju-setuju saja. Tetapi si Beragajulan itu memang sedang khawatir jika Dana tadi berpotensi: ulat-ulat pemakan duit berkembangbiak di kampungnya. Namun, kekhawatirannya itu hanya berani ia ungkapkan pada Neng Sindi, temannya. “Pembasmi ulat kan sudah terbentuk ya Neng, ngapain sih pak erwe ngebet banget bikin lagi, jangan-jangan ini cuma akal-akalan cari duit kayak bikin proposal?” Tambah Jang Kendi.
“Loh, Dusun kita kan emang gak punya Jang.”
“Burung srigunting, sikatan, kutilang, glatik, prenjak, termasuk semut ngangrang dan serangga seperti pathogen serangga paecilomyces sp, parasitoid larva-pupa compsilura concinnata, dan brachymeria lasus. Mereka adalah tim pembasmi bebas bahan kimia, musuh alami si ulat bulu, predator biologis yang jauh-jauh hari sudah dibentuk Tuhan. Masalahnya populasi mereka semakin langka di Dusun kita, hampir musnah karena kita buru-perjualbelikan, bahkan katanya si belekok sekarang ‘tak sanggup’ lagi bekerja, karena fungsinya sering kita gantikan dengan insektisida. Kita sombong sih, selalu merasa yang paling berhak atas bumi dan isinya, banyak yang seenaknya mem-phk ‘pekerja-pekerja alam’ setelah kita berhasil menciptakan teknologi yang lebih ‘cekatan’ dari mereka, serakah mengeruk jeroan bumi, ngegundulin gunung dan bukit-bukit, memperkosa tanah dan laut royokan kemudian menceraikannya jika tak mengandung lagi keuntungan. Penghuni alam yang habitatnya dirusak pembangunan pabrik kita, yang sawah-ladangnya diubah jadi vila, yang makanannya berubah jadi mainan plastik anak kita, untuk proyek pembangunan dan kemajuan industri kita mereka musti mengalah. Malah ada yang menganggap kalau ada ular yang menampakan dirinya ke hadapan kita, si ular berarti ingin mati ditangan kita. Maka yang lapar keluar dari hutan di-dor jadi tontonan, yang haus keluar sarang ditangkap-masukan dalam kandang jadi piaraan, yang iseng jalan-jalan ke area pemukiman disembelih jadi hidangan. Kata ‘guru’ ngajiku lidah jangan hanya dilatih merasakan yang enak atau tidak enak tetapi gunakan untuk mendeteksi yang sehat dan yang tidak, sebab lidah tak akan pernah puas hanya merasakan sensasi daging semut rangrang, ingin mencicip juga menu spesial-sensasional :Bakso Pantat Gajah, mungkin nanti jika ilmu koki perancang selera makan kita sudah canggih kuadrat, akan menyajikan juga menu spesialsupersensasional :Daging Panggang Pantat Genderewo.”
Neng Sindi tak diberi kesempatan untuk buka mulut, sebab sungut Jang Kendi seperti putus urat remnya. Malah dia sempat menyimpulkan kalau Jang Kendi sedang kambuh penyakit sarapnya, mungkin bisa dipicu karena masalah dirumahnya, lagi marahan sama pacarnya atau karena masalah hutang-piutang. Seperti biasa, kalau sudah begini dia pun sepakat untuk memakluminya saja, sambil mencoba meningkatkan kesabaran, dia memutuskan untuk tidur-tiduran sebentar, dan berharap semoga tak ada roh gentayangan sudi masuk ke tubuh Jang Kendi yang jarang mandi.
“Semakin Dusun kita mengkota, kenapa semakin terasa kampungan?” Tanya Jang Kendi yang meluncur ke arah awang-awang. “Apa itu karena kita yang tak pernah serius menjalankan anjuran pak erwe untuk meniru pola hidup ‘sehat’ a la penghuni Dusun Maju diseberang benua sana? Sudah di didik sekian tahun agar memiliki kepribadian yang utuh, direbus sekian lama dikawah pengalaman, bahkan gaya dan dandanan bangunan kita sudah hampir mirip dengan wadag gedung Dusun sonoh, tetapi kenapa kita masih sering berlagak norak bagai si kebo ijo yang senang memamerkan keris pemberian ken arok. Atau seperti yang diisyaratkan oleh ‘guru’ku: "si raksasa cakil sedang berperang dengan raden arjuna, cakil mengambil kerisnya lantas menusuk perutnya sendiri. si raksasa cakil sedang dalam proses menikam perutnya sendiri dengan keris miliknya sendiri, terbunuh oleh sesuatu yang diciptakan dan dimilikinya sendiri, setiap orang juga berada dalam proses membunuh dirinya sendiri, setiap orang melampiaskan kesenangan, memanjakan keinginan, memenuhi ambisi sampai tuntas." lanjut ‘guru’ku "padahal itu semua memenjarakan dan akhirnya menimbuni diri kita sendiri. setiap orang adalah cakil." Apakah benar kita sudah menjadi si cakil? Apakah benar kita sudah seperti yang ditulis seorang pengarang; tak berminat berguru pada sejarah, hanya berminat membuat sejarah? Benarkah kita gampang dirayu oleh sebuah hadiah? Mudah-mudahan gak mencret-mencret luh! Yang bilang kita selalu tertipu sama maksud buruk yang dibungkus maksud baik, mana buktinya kalau kita suka tipu-menipu? Mana mungkin sesudah mempunyai warga seorang DPR, guru-guru mumpuni, sarjana-sarjana muda, yang memiliki ajian dan kesaktian empu-empu pengetahuan, yang mampu meracik suplemen-suplemen, obat kuwat dan vitamin-vitamin pemicu kecerdasan otak, kita masih bisa ditipu?”
Neng Sindi manggut-manggut ngantuk. Namun Jang Kendi malah semakin menggelora seperti kemasukan roh Bung Kusan -sesepuh Dusun- yang sewaktu hidupnya suka berpidato dialun-alun kalau ada dangdutan.
“Neng!.” Lanjutnya, sambil mengedarkan pandangan keseluruh ruangan tak mempedulikan Si Sindi yang sudah ngantuk ingin pulang. “Kalau beliau-beliau disonoh saja cenderung jadi frustasi menjawab lembaran-lembaran soal tentang ulat bulu, apalagi saya yang bodosontoloyo tak berpengalaman ini. Anak hasil jenis sejarah apa saya ini, tak terbiasa mencari sendiri, semakin nyandu pada jawaban-jawaban jadi produk Dusun sana, dan selalu meminta juga mewakilkan menjawab pada bapak kita disonoh? Padahal kita sudah sepakat tak ingin membuat orang yang kita junjung malah tambah frustasi oleh persoalan kita, kita tak tega jika sampai beliau yang sudah tak kuat berdiri harus repot menuntun kita. Kita setuju untuk menjadi anak yang berbakti, sedia melayani keperluan bapak agar bisa nyaman duduk dikursi menikmati jerih payahnya sambil fokus memperbaiki nilai-nilai hidupnya, sebelum menghadap Penciptanya. Di sebuah acara pengajian menyebutkan jika Dusun kita termasuk salah satu penghasil bahan-mentah pengetahuan, malah banyak yang merakit gelar akademisnya disini. Tetapi kenapa banyak yang menyangka bahwa kita malas mengolahnya menjadi ilmu? Banyak yang sok tahu nganggap kita kurang akrab bergaul dengan minimarketnya, padahal jelas mulut kita selalu belepotan oleh produk-produknya tiap hari. Jebolan perguruan silat mana itu yang meremehkan metodologi kita menangkap gerak Dusun, yang berkata kita hanya berminat memburu nilai-nilai yang ekonomisnya saja, dan kurang berminat pada nilai-nilai lain? Buktinya tak jarang kan Neng, kita berdua bergaya bagai filsuf amatiran yang sedang sibuk menghafal buku-buku motivasi didepan teman yang sibuk banting tulang dagang asin di pasar? Pastilah keliru orang yang berkesimpulan bahwa arus pikiran kita telah diarahkan, sehingga kita hanya berminat dipusingkan oleh soal senang-tak senang saja, oleh ada uang dan tak punya uang saja, oleh ambisi pribadi saja, atau oleh tingkahlaku-pacarkusayang-nya saja. Buktinya kamu masih minat mencari soal yang baik-buruk dari seorang lelaki, kan Neng? Wajar kan kalau sesekali terjadi hal yang karena keterbatasan pengetahuan kita, kita tak mengetahui bahwa orang yang kita pilih karena kepinterannya, yang kita coblos karena keluasan wawasannya: itu sedang frustasi, itu hanya sibuk memperkaya diri sendiri? Padahal kita sudah semakin konsumtif ngosumsi pengetahuan kayak obat 3-7x sehari sesuai imbauan. Tetapi, tolong dong jangan cuma bisa membodo-bodoin kita ya Neng, soalnya kan 'pengetahuam' yang hadir banyaknya soal artis mesum yang baru putus cinta. Jadi berapa kali lagi kita akan keliru Neng, berapa banyak lagi buku-buku musti kita beli agar langkah kita tak terlalu keliru? Maka itu Neng, kalau tak sekarang kapan kita akan memulai nyicil merubah kekeliruan diri kita sendiri, mencoba mengumpulkan bahan-bahan sendiri, menganalisis, mengkaji, mengolah dan menyimpulkannya sendiri? Soal benar atau salah prediksinya kita pikirkan lagi nanti, belakangan!”
“Ih sombong deh!” Igauan Si Sindi yang sudah tertidur dipojok ruangan.
“Betapa kita ketinggalan jauh dengan langkah mereka yang telah bersedia banting tulang sampai keluar ingus, untuk menuntut ilmu sampai bangku kampus, kuwat menahan mual ongkos dokter yang muahal, tahan bau mulut cerdik pandai, rajin menghafal rumus-rumus praktis, siap digerayami tangan dukun, bahkan tekun mengeleketek selangkangan bapak dosennya. Demi sebuah ‘jawaban’, mereka rela kehilangan ‘kebebasan’, mereka pegang teguh ajaran leluhurnya -Susah-susah dahulu, senang-senang kemudian- sepenuh jiwa, yakin akan berhasil balik modal, percaya akan memiliki ini itu, dan sungguh-sungguh mewujudkan cita-citanya menjadi ini-itu.’
Krik..krik..krik! Sepi menyelimuti ruang diskusi, rupanya dongeng Jang Kendi berhasil membuat Neng Sindi tertidur pulas. Sedang Jang Kendi sendiri semakin kesurupan entah dirasuki sama setan apa yang memaksanya untuk naik keatas meja meneruskan ocehannya sambil teriak-teriak kayak monyet bokong merah. Tetapi sempat mereda beberapa menit setelah Neng Sindi kembali ngelindur mengajukan interupsi.
“I told you to keep your voice down!” Teriak Neng Sindi dan cukup membikin kaget Jang Kendi semenit.
“Who told you that?” Balas Jang Kendi .”Maybe-kah, we less have yu tu tok-tok wek probleum?” maksudnya: mungkinkah kita kurang mempunyai strategi menghadapi masalah? Harap maklum sebab memang dikelas silat nilai ujian b.inggrisnya yang terbutut: F- (F kurang).
Lanjut bray!
Kita semakin kurang kesanggupan untuk ‘susah-susah dahulu’ seperti mereka, kita akan membeli apa pun karena ingin cepat sampai pada yang ‘senang-senang kemudian’, setelah mempunyai bekjul, semakin tak sanggup rasanya untuk jalan kaki sekedar pergi ke warnet yang berjarak 20-30 meter dari rumah. Jika mesin cuci rusak, tak memiliki kesanggupan untuk mencuci pake tangan seperti dulu waktu belum mempunyai mesin cuci. Menghadapi serangan ulat bulu cukup diatasi dengan membeli pembasmi hama, menyemprot insektisida dan tak terbiasa memikirkan dampaknya yang bisa mengganggu keseimbangan ekosistem. Sakit kepala, mencret, masuk anjing tinggal telan obat-obatan warung, syukur-syukur kita punya duit lebih jadi bisa pergi ke dokter, atau dukun. Patah kaki hanya fokus mengobati kaki tanpa pernah kepikiran untuk mengobati atau merubah pola hidup. Kenapa berkali-kali doi jatuh dari motor, motornya yang bermasalah atau jiwa, mental juga spiritual pengendaranya yang hanya ingat gas dan kurang kesadaran rem, atau keadaan jalan, gerakan-aturannya: awut-awutan? Tetapi untung tak semua yang tadi saya sebut ‘kita’ seperti itu Neng, seperti di beritakan dikoran: Tidak semua ulat musti dibasmi. Sebab jika semua dibasmi, tak ada lagi yang bermetamorfosis menjadi kupu-kupu, yang sangat berperan membantu proses penyerbukan tanaman. Ulat bulu yang diberitakan berjenis arctornis riquatp, hymantriia beatriix, sphraegidus virguneula, dan orygya postica. Jadi bukan jenis baru. Untuk menekan hama ulat bulu ekosistem harus diperbaiki. Sayangnya, pendapat para pakar tidak mendapat porsi pemberitaan yang memadai di media massa. Akibatnya, warga pun terus dihantui ketakutan. Namun tentu ada hikmah yang bisa dipetik dari kejadian ini.” Demikian berakhirlah pidato Jang Kendi yang rupanya telah ia siapkan dirumah, hasil utak-atiknya dari beberapa sumber.
Satu persatu mata Neng Sindi yang sejak tadi tertutup sedikit demi sedikit tapi pasti mulai terbuka, memastikan kalau Jang Kendi sudah berhenti ngebacot, namun pembicaraan semakin melenceng dari tema semula, malah keduanya kini semakin mendangkal dan merendah sepertinya memang sia-sia lah pidatonya tadi yang gagah kalau akhirnya merosot juga ke hal syahwat. Neng Sindi sangat serius menafsirkan mimpinya tadi ketemu lunmar, Jang Kendi malah asyik sendiri nonton video alil di henponnya, sambil asyik garuk-garuk anunya. Sedang jauh dari tempat pemuda-pemudi gatal ini, dipos ronda pojok timur dusun, si lele dan si pepe, juga sedang menyelenggarakan obrolan yang juga a la kadarnya.

“Baca tv ga pe tadi sore,” Tanya si lele tapi tak keburu dijawab si pepe. “Ulat bulu hadir di dusun Medok, empatwelas ribu pohon mangga petani dipreteli daunnya. Malah di Pontianak ulat bulu kebal disemprot insektisida, setelah disemprot hanya pingsan beberapa menit kemudian hidup lagi. Sudah dibakar, disemprot racun sampai menyelenggarakan salat hajat untuk mengusirnya, si ulat tetap saja banyak. Benarkah ini kutukan, karena perilaku kita sekarang akrab dengan dosa? Apa karena burung-burung predator ulat bulu sudah tak punya lagi pekerjaan sebab fungsinya tergantikan bahan-bahan kimia bikinan kita, atau karena iklim cuaca, atau akibat kesalahan kita sendiri yang berlebihan memburu belekok sehingga, keseimbangan ekosistem terganggu? si wewe perlu dikasih tahu nih, agar gak ngeburu lagi belekok!”
“Hmm, kalau cuma melarang kamu sama saja kaya pak erwe le, bisa kasih kerjaan baru si wewe agar gak ngeburu lagi belekok? Di berita, minim komentar dari pakar-pakar, berita-berita kebanyakan nakut-nakuti saja, bikin gatal, jangan terlalu di-hu’uh-kan lah pemberitaan di tv. Di dusun Medok ulat yang menyerang bukan jenis baru, spesies-spesies itu sudah ada sedjak tahoen empat lapan, lebih tua dari umur bekjulmu le, makanya dengerin pakar-pakar!”
“ Tadi siang pe, waktu mau ke warnet aku ketemu pak tani, nanya-nanya dan ngobrol bentar sama beliau, beliau mengaku sudah tak u’u lagi katanya sama serangan ulat bulu. Sepanjang sejarah hidupnya, beliau sudah sering melihat kebunnya rusak pe. Katanya dulu kala kebun jeruknya ludes disita si bangsat dasamuka yang sedang poling in lop sama pacar rama, kemudian datang kumpeni, bangsat berwajah necis dengan sepasukan operdomehnya merampas kebun mangga warisan Kakeknya. Lalu si nobita yang sedang dikejar-kejar si jayen juga datang ngaku-ngaku sebagai sudaranya dari timur, beliau percaya saja karena tak bisa untuk tak mempercayai, maka beliau kasih tempat itu anak di bilik pinggir kebun jagung miliknya. Lumayan katanya untuk ngusir tikus-tikus, apalagi si tolol mempunyai perkakas canggih dikantong ngajaibnya. Namun si ce’es dorangemon itu malah membikin perkara, meski seumur jagung kerusakan akibat ulahnya katanya lebih parah dibanding si tikus. Dan pesannya we, sekarang selain musti waspada pada serangan ulat bulu kita juga disarankan supaya hati-hati pada gangguan ulat-ulat raksasa.”
“Halah..Pak Tani didengerin, dengerin itu komentar ahli perulatan.”
“Loh, pak tani kan ahli perulatan pe, yang sehari-hari bergaul dengan tanah, dengan tanaman dengan pepohonan , yang tangannya kotor dengan lumpur, yang keringatnya membasahi cangkul.
“Ya, ahli perulatan yang ku maksud sawah-ladangnya beda sama sawah-ladangnya garapan pak tani.
“Kamu dengar ceramah jumat kemarin ga, pe? Kata ustad ini mirip fenomena masuknya ribuan belalang ke dalam istana Firaun di jaman Nabi Musa. Juga hikmah dari kisah petualangan ulat bulu yang berakhir indah setelah bermetamorfosis menjadi kupu-kupu. Namun, caranya menjadi indah telah merusak makhluk lain, karena pohon-pohon rusak dibuatnya. Ini kan seperti perilaku kita pe, yang disebut mahluk berakal. Lalu, soal penanggulanggannya agar jangan sampai berlebihan, musti mempertimbangkan keseimbangan ekosistem jadi tidak semua dibasmi. Sebab jika semua dibasmi, tak ada lagi yang bermetamorfosis menjadi kupu-kupu yang sangat berperan membantu proses penyerbukan tanaman. Ku pikir pe, pemakaian kata menyerang untuk menggambarkan kemunculan ribuan ulat bulu itu kurang pas, soalnya mereka kan mahluk alam, mereka alami, tidak seperti kita yang sudah banyak di/me-rekayasa (oleh) sesuatu sehingga tidak lagi ‘mau’ alami. Mungkin mereka sedang bertransmigrasi pe, atau mengungsi. Atau mungkin munculnya fenomena itu karena hasil dari ‘rekayasa ’ kita dalam mengelola bumi? Kalau memakai kata menyerang rasanya kok serem pe, seolah kita akan menghadapi peperangan menghadapi mahluk yang sebenarnya mudah untuk kita taklukan. Kalau rombongan kita yang hadir ke habitat mereka apa bisa disebut menyerang? Kan cuma jenis kita yang suka menyerang. Kata ustad Tuhan hadir melalui kemunculan mereka untuk menegur perilaku kita pe, Kamu ngedengar kan pe?
“Le, kata ‘guru’ku kalau nanya cara membuat bakso jangan ke tukang cendol.”
“Maksudnya?”
“Dengerin itu ya orang yang kompeten di bidangnya le, agar gak terlalu keliru.”
“Baik pe, memang benar katamu tadi untuk mendengar hanya pendapat pakar yang kompeten, dan sah-sah saja kamu untuk membatasi hanya mendengar pendapat-pendapat dari orang-orang yang kompeten. Tetapi sebaiknya kamu juga ngebuka telinga pada pendapat orang yang gak kompeten agar kamu bisa belajar mendengarkan yang gak kamu sukai. Lebih bagus lagi kalau kamu mau mendengarkan juga cerita ku yang sangat sangat sangat kompeten ini. Tapi sebaiknya jangan dulu memotong sebelum beres, juga sebaiknya cerita ini tak usah ditagih kebenarannya, karena memang banyak salahnya.

Kupikir pe, bulu-bulu ulat sudah merambat juga ke dinding fb, dan media-media jejaring sosial lainnya, mungkin juga sudah masuk dan sembunyi di laci-laci pikiran kita, soalnya kalau ngo’el dan membaca lagi status juga catatan-catatanku (termasuk catatan ini) aku sering merasa gatal-gatal pe. Aku sering menganggap sudah mengenal orang hanya dengan membaca profilnya, catatan-catatannya atau yang dipostingnya di sonoh, akhirnya aku tahu anggapanku tentang si orang itu ternyata memang banyak kelirunya. Bahkan pe, anggapan ku tentang diriku sendiri juga sering keliru. Di antara yang publish-publish itu ada yang agak-agak aktivis, ada yang agak slebor, ada yang jujur dan pulgar, ada yang menye-menye, ada juga yang selalu menyebut nama Tuhan. Seringnya aku jadi terjebak pada teks pe, padahal aku sering diberi tahu kalau yang dihadirkan teks belum tentu dihadirkan oleh sikap dan perilakunya. Contohnya aku pe, aku sendiri sering membuat image ku dengan teks-teks sehingga orang akan menyangka bahwa aku seperti yang ku tulis, misalnya ketika aku mengutip kata-kata bijak tujuanku hanya ingin dapat likethis, atau minimal orang menganggap aku bijak. Dan tak sedikit pe yang tertipu, temanku nyi nginel adalah orang yang sering tertipu oleh ku. Doi malah pernah disemprot insektisida oleh pacar temanku, karena lagi-lagi terjadi salah-sangka: pacar temanku gatal-gatal setelah baca publish-an nya si nginel yang disangka tertuju padanya, sehingga perlu mengoleskan deretan kalimat antigatal dari berbagai kitab. Dan bodohnya si nginel baru ngeuh setelah pacar temanku tadi bentol-bentol sampai mangkel. Tahu kan pe, efeknya apa? Ya betul, sampai sekarang pacar temanku alergik untuk ngobrol lagi dengan si nginel karena menyangka si nginel sejenis spesies ngulat bulu.

Lain lagi denganku pe, aku juga kemarin-kemarin merasa gatal-gatal sama sejenis spesies ulat bulu baru yang ‘merembeti’ ku. Ah..ini terlalu didramatisir, tetapi tanggung pe, sudah panjang lebar aku ngebulatuk, gak afdol rasanya kalau gak nunjukin bentol-bentol diarea pantat yang sering aku garuk-garuk. Karena bentolku letaknya dipantat maka ini ada hubungannya dengan perasaanku sama si praba sumirat, cewek yang sudah dua tahun jadi pacarku pe, soalnya kemarin aku merasa jatah pulsaku akan habis, aku gak tahu masa aktif jadi pacarnya berlaku untuk berapa lama lagi.

Ditaman sebuah kampus negeri aku keluhkan rasa gatal-gatalku padanya, maksudnya sih ingin minta salep untuk bentol-bentol dipantatku dan mungkin saja dia bisa bantu mendiagnosisnya pake kacamata psikologi, soalnya bunyi kentutku kemarin agak amburadul pe. Sama ulat yang akan menyerang kebun pak erwe sih aku kurang resah pe, tetapi bulu-bulu ulat yang bikin aku gatal ini, sudah menempel di kebun yang kubikin bareng si sumirat, pengaruh bulunya malah sudah merembeti impian mamahnya.

Aku bisa maklum pe, soalnya pengaruh bulu-bulu BMW nya memang lebih bikin gatal dibanding bmw (Bebek Merah Warnanya) ku. Apalagi muatan profil pic-nya dan pengaruh bulu-bulu lain yang sering dihadiahkan pada si sumirat.

“Waduh, sori le bukannya gak betah dengerin cerite lu. Tapi guwe juga jadi gatal-gatal sebelah pantat nih, musti buru-buru eek di jumblengnye si bebe.” Kata si pepe sambil berlari meninggalkan si lele sendirian.
Kamis, 26 Mei 2011
Mang Simar
cas-cis-cus di gasibu

Tadi malam Simar mendapat wangsit didalam mimpinya dari Pak Kasur, yang memerintahkannya agar besok pagi sekali ia pergi ke kota sebelum si Ibi surabi bangun pagi, untuk ikut pencalonan diri menjadi anggota pemda, Pak Kasur menggambarkan tentang hidupnya yang tak akan lagi samar jika ia menjadi pegawai negeri. Jalan hidupnya akan lurus, anak-anaknya tak akan kurus dan bodi istrinya akan semakin montok juga mulus. Bahkan, rumahnya bakal bagus, tak lagi hancur ditembaki tim densus yang hendak menangkap si Doraemon yang sering bikin kasus-mencuri ayam-ayam kampus.
Angin berhembus sepoy-sepoy, masuk kedalam usus- keluar dianus lalu melemparkan mimpinya kedalam kakus. Terperanjat dia terbangun dan segera berlari ke arah kakus menyelamatkan mimpi, setelah sempat menginjak si bungsu didalam kardus yang sedang asyik mengelus-elus anunya yang kurus sambil terus-menerus mengigau : Cus..Plus..Juss..joss..ahh…
Husssssttt! Mencebur ia kedalam kakus meraih mimpi yang hampir mampus, kemudian dibawanya mimpi itu ke bidan minta di inpus. Paginya sesuai perintah di dalam wangsit, Simar telah sampai di kota dan bergumul dengan beratus ribu orang yang juga punya mimpi sama. Sebelum mengisi lembar soal dalam hati ia yakin, jadi pegawai negerilah satu-satunya cara agar hidupnya menjadi pasti. Pastinya setelah menolak untuk mencuri dan korupsi, yang juga sangat pasti dapat menggiringnya masuk bui dan tv seperti temannya si Intisari bikin hepi.
Dan tak disangka dia berhasil lulus tes psikotes hari ini, tetapi dia jadi ragu dengan tes berikutnya, mengingat dirinya yang hobi minum intisari dan kopi, sudah pasti dia bimbang pada tes lari. Maka sebelum ditimbang diposyandu dia putuskan besok hari minggu akan lari pagi digasibu. Dan kali ini keputusannya itu keliru, sebab ia tak pernah tahu jika gasibu dihari minggu telah berwajah seperti pasar baru, lapang dan jalan penuh dengan para pedagang dan sesak orang lalu-lalang.
Didalam isi pidatonya minggu lalu, tuan misteur Ir. Gerber perancang gedong sate yang mewakili Gubernur Jendral di Batavia, melihat fenomena peralihan fungsi lapang ini sebagai dampak dari krisis ekonomi global, ditengah lapang berjam-jam beliau membacakan tentang sistem ekonomi makro dan mikro yang tak pernah dimengerti orang-orang yang mendengarnya. Bahkan seorang yang datang langsung diamankan petugas setelah dengan lantang bilang. “Ahhhkkk lieurrrr An**k”.
Beliau juga menganjurkan agar semua sekarang musti kreatif-produktif dan secara inovatif dapat merubah animo masyarakat yang konsumtif menjadi duit. Maka dengan sarannya itu, kini pemungut pajakpun semakin kreatif memungut pajak pada pedagang yang sangat butuh duit. Dari mulai pajak untuk sewa tempat-kebersihan sampai pajak untuk kentut.
Lain dulu lain sekarang semua telah berubah, bahkan tujuan orang-orang yang datang ke gasibu hari minggu atau ke pusda’i hari jumat juga ikut berubah dan semakin beragam –seperti Simar yang datang ke pusda’i hari jum’at, kini tujuannya bukan lagi mencari pahala seperti biasanya, yang ia cari sekarang adalah diskon agar kembali untung mendapat banyak laba.
Dorrrrrrr! Simar dibikin kaget oleh Nyi Kunti yang menepuk bahunya dari belakang, ia lihat perut Nyai semakin membuncit karena ulah suaminya si Jin kura-kura yang hobi hura-hura. Simar akhirnya bertanya tempat yang bisa dipakainya buat olah raga padanya, kemudian Nyai mengajaknya kesebuah taman manula. Disana ada sekitar seribu ibu hamil yang sedang senam poco-poco, karena perutnya yang buncit Simar langsung diterima jadi anggota tanpa harus diplonco, kemudian ikut senam disana seharian. Bahkan, sempat ada yang iseng bertanya umur bayi yang dikandung dalam perutnya.
Besoknya ketika akan dites fisik, Simar jadi ragu dirinya berhasil lulus tes lari kali ini, sebab senam lantai kemarin malah membuat perutnya yang buncit jadi melilit sakit, juga karena tiga-botol intisari yang ia teguk tadi pagi sebelum mandi, sebelumnya ia percaya dapat menambah rasa percaya diri. Tetapi, kini malah membuat perutnya yang sakit tak bisa lagi menahan kecipirit dan prettt .. Basah semua.
..........
hawa ngalengka

Sudah tiga minggu semenjak kepergian anak-anak Simar yang merantau ke Alengka, di Klampis Ireng mendadak dang-dut. Sebab kini warga tak perlu lagi begadang menjaga ternak dan kebun mereka, bahkan kini Simar jadi gandrung menelepon Nyi Janda.
Tetapi dari lubuk hatinya yang kecil, ia merasa cemas pada anak-anaknya. Oleh karenanya, dia bermaksud pergi ke Alengka mencari anak-anaknya. Tibalah Simar di Alengka, negeri para raksasa yang sangat berbeda dengan Klampis Ireng tanpa anak-anak Simar. Disana banyak sekali polusi, mulai dari polusi : Udara, suara, mata sampai polusi cepe dan tidur yang dikit-dikit duit.
“Priiiit!! Duit-duit…”
Di Alengka dia bertanya pada setiap penduduk yang berpapasan dengannya, namun semua sia-sia, jawaban tak pernah didapat sedangkan dia kini sudah tak lagi mempunyai apa-apa. Sebab, setiap kali bertanya, dia harus mengikhlaskan barang dan uangnya menjadi milik orang lain. Yang dimilikinya sekarang hanya selembar foto anak-anaknya. Namun, Simar tak pernah gentar, dia akan terus ikhtiar. Tetapi, kini perutnya lapar.
"waduh gimana donk?" keluhnya pada diri sendiri.
Di Alengka akan sangat sulit menemukan orang seperti Pak diman, yang waktu musim kampanye rajin mengundang anak-anak yatim untuk makan gratis di kafenya. Simar jadi kangen Pak diman, setelah terpilih jadi RW, tak pernah lagi dia lihat Pak diman nongkrong di pasar. Lalu, terpikir olehnya untuk membawa Pak diman ke Alengka. Siapa tahu Pak Diman bisa merubah sedikit penampilan Alengka, Pak Diman kan birokrat yang seniman.
Bruuuk!
Perut Simar pun semakin lapar. Tanpa berpikir panjang, dia menghampiri sebuah warteg samping stopan. Dia mau bekerja apa saja untuk mendapatkan makanan. Sebelum sampai kedalam warteg yang penuh sesak itu, di stopan dia melihat anak-anaknya. Mereka menjadi pengamen: Ultraman, Batman, Spideurman dan Suparman. Mata Simar membelalak tak percaya dan tak bisa diam menghitung jumlah anaknya yang lima.
Kurang satu!
Di antara anak-anaknya yang sedang teler aibon itu, tak ia temukan sosok si bungsu Doraemon yang lucu.
Maling! Maling! Teriakan di dalam warteg dan tak lama setelah itu, ia melihat anak bungsunya si Doraemon sedang dikejar-kejar ratusan orang. Di antara mereka yang mengejar, ada yang membawa keris, tombak, panah, dan pistol air! Simar tak percaya, semakin tak percaya ketika ia mengetahui bahwa si bungsu mencuri lem aibon milik Pak Diman!
........
membeli identitas di cihampelas

Kali ini Simar jalan-jalan ke Cihampelas, dia bergelantungan disemua toko yang ia singgahi. Mencoba satu-persatu : Baju-celana-celana dalam-bebe-kalung-kaca mata-sepatu-sandal dan semua yang ia kehendaki, lalu memasukannya ke dalam kantong ajaib Doraemon untuk diaudisi.
Dan tak lupa ia cicipi bermacam dagangan kuliner disepanjang jalan, kesempatan langka dan kebetulan ia memiliki selembar voucher makan gratis sekenyangnya. Tetapi Simar sudah sangat kenyang, akhirnya bermacam jajanan kuliner itu dari mulai berat-ringan sampai berjuta jenis cemilan tak pernah berhasil masuk kedalam perutnya yang telah buncit dengan ketakpastian.
Sebelumnya semua jenis kuliner itu akan disaringnya terlebih dahulu disebuah baskom jingga pemberian Resi Drona, yang dapat meng-diagnosis makan yang asli dan yang telah dimanipulasi, mendeteksi yang sejati dan yang telah ditempel bermacam gengsi.
Dia mengdiagnosa kue ulang tahun sampai pecel lele, mendeteksi surabi sampai ke pizza. Malah akan tampak sangat konyol setiap sebelum makan orang biasa berdoa, dia malah bertanya pada dadar telor yang hendak disantapnya. Didalam mu terkandung nutrisi atau gengsi? Selain itu ia juga telah merubah semua patung-patung dan manequine yang ia temui jadi berwajah seperti anak-anaknya : Spideurman, Batman, Suparman dan Ultraman.
Kemudian Simar nongkrong di Ciwalk, disana ia ditangkap satpam. Rupa-rupanya disana ia telah sampai hati mencuri sebuah gantungan kunci berwajah Semar disebuah toko yang menjual segala macam kreasi anak negeri- Toko purba bercita rasa Eropa milik saudagar kaya asal Malaysia.
Klaimnya Semar saudara kandung mantan suami Isabela, maka si saudagar merasa berhak juga mempromosikan semar-semarnya. Semar dan anak-anaknya yang dipromosikannya lebih sakti dan fanky, tentu saja ternyata yang bertugas memanipulasi seorang seniman handal bernama, Parodi!
..........
tak ada tempat untuk sudara.

Kamis 27-08-09, Simar diundang tajil bareng oleh Bima di BIP. Siangnya (seperti biasa jika ada maunya) tapa-brata di Caringin Tilu, mengiba semoga Kresna sudi meminjamkan uang Rp.50.000,- padanya. Karena tak tega melihat mukanya yang semakin butut juga karena mengingat Simar sebagai teman yang selalu boke, akhirnya dengan iba hati Kresna menyerahkan juga padanya uang belanjaan untuk Nyi Ontosoroh selembar 45ribu. Simar tersenyum manja, langsung dia bergegas kembali ke Klampis Ireng, merenovasi dirinya agar tampak 10 tahun lebih muda, menyikat puncungnya yang putih karena ketombe. Ia kenakan sarung cap dua kurcaci kesayanganya-kemeja krokodil made in Swiss pemberian Ratu Kidul, yang dibeli waktu tamasya ke Pangrango dan tak lupa ia bawa juga keris pemberian Ken Arok yg telah berhasil membunuh Kebo Ijo-sambil dalam hati mengharap dapat memperistri gadis seperti Ken Dedes. Matahari semakin condong ke kiri, dia masih saja sibuk mengapresiasi diri, ia ingin kelihatan funky di depan semua bidadari seperti si Chomsky yang berhasil menggondol Dewi Banowati di acara tek-mi-ot.
Get Out! Teriak ibunya yang sudah tak tahan dengan bau nyong-nyong yang digunakanya .Akhirnya Simar beranjak pergi jalan kaki, menyusuri sawah-mendaki gunung-melewati lembah. Lima menit sebelum adzan dia telah berhasil tiba di BIP, ia disambut ondel-ondel Jepang yang menyanyikan lagu lawas Harry Roesli, didalam para kurawa dan pandawa sedang sibuk berebut posisi tempat duduk, berebut duduk di depan meja yang menyajikan menu tajil spesial -seublak daging naga- yang dipercaya sebagai makanan para dewa dan dapat meningkatkan derajat orang yang memakanya. Sedangkan di dapur para sudra yang sebenarnya lebih menguasai ilmu meracik tanah ikut latah memanfaatkn puasa, berharap uang THR kali ini cukup untuk mmbeli baju baru-Hp baru-mobil baru yang pasti dapat sedikit meningkatkan gengsi ketika memejengkanya waktu pulang mudik ke kampung. Simar tak kebagian tempat, padahal adzan telah berkumandang, para kurawa dan pandawa tak ada yang menghiraukanya, mereka sedang sibuk mengunyah, suara makannya bergemuruh tampak sangat lapar dan rakus! Bahkan kursi dan meja pun telah habis disantap para kurawa dan pandawa menjadi menu cuci mulut mereka. Tak ada tempat untuk Simar dan sudra!
...

Tadi malam Simar mendapat wangsit didalam mimpinya dari Pak Kasur, yang memerintahkannya agar besok pagi sekali ia pergi ke kota sebelum si Ibi surabi bangun pagi, untuk ikut pencalonan diri menjadi anggota pemda, Pak Kasur menggambarkan tentang hidupnya yang tak akan lagi samar jika ia menjadi pegawai negeri. Jalan hidupnya akan lurus, anak-anaknya tak akan kurus dan bodi istrinya akan semakin montok juga mulus. Bahkan, rumahnya bakal bagus, tak lagi hancur ditembaki tim densus yang hendak menangkap si Doraemon yang sering bikin kasus-mencuri ayam-ayam kampus.
Angin berhembus sepoy-sepoy, masuk kedalam usus- keluar dianus lalu melemparkan mimpinya kedalam kakus. Terperanjat dia terbangun dan segera berlari ke arah kakus menyelamatkan mimpi, setelah sempat menginjak si bungsu didalam kardus yang sedang asyik mengelus-elus anunya yang kurus sambil terus-menerus mengigau : Cus..Plus..Juss..joss..ahh…
Husssssttt! Mencebur ia kedalam kakus meraih mimpi yang hampir mampus, kemudian dibawanya mimpi itu ke bidan minta di inpus. Paginya sesuai perintah di dalam wangsit, Simar telah sampai di kota dan bergumul dengan beratus ribu orang yang juga punya mimpi sama. Sebelum mengisi lembar soal dalam hati ia yakin, jadi pegawai negerilah satu-satunya cara agar hidupnya menjadi pasti. Pastinya setelah menolak untuk mencuri dan korupsi, yang juga sangat pasti dapat menggiringnya masuk bui dan tv seperti temannya si Intisari bikin hepi.
Dan tak disangka dia berhasil lulus tes psikotes hari ini, tetapi dia jadi ragu dengan tes berikutnya, mengingat dirinya yang hobi minum intisari dan kopi, sudah pasti dia bimbang pada tes lari. Maka sebelum ditimbang diposyandu dia putuskan besok hari minggu akan lari pagi digasibu. Dan kali ini keputusannya itu keliru, sebab ia tak pernah tahu jika gasibu dihari minggu telah berwajah seperti pasar baru, lapang dan jalan penuh dengan para pedagang dan sesak orang lalu-lalang.
Didalam isi pidatonya minggu lalu, tuan misteur Ir. Gerber perancang gedong sate yang mewakili Gubernur Jendral di Batavia, melihat fenomena peralihan fungsi lapang ini sebagai dampak dari krisis ekonomi global, ditengah lapang berjam-jam beliau membacakan tentang sistem ekonomi makro dan mikro yang tak pernah dimengerti orang-orang yang mendengarnya. Bahkan seorang yang datang langsung diamankan petugas setelah dengan lantang bilang. “Ahhhkkk lieurrrr An**k”.
Beliau juga menganjurkan agar semua sekarang musti kreatif-produktif dan secara inovatif dapat merubah animo masyarakat yang konsumtif menjadi duit. Maka dengan sarannya itu, kini pemungut pajakpun semakin kreatif memungut pajak pada pedagang yang sangat butuh duit. Dari mulai pajak untuk sewa tempat-kebersihan sampai pajak untuk kentut.
Lain dulu lain sekarang semua telah berubah, bahkan tujuan orang-orang yang datang ke gasibu hari minggu atau ke pusda’i hari jumat juga ikut berubah dan semakin beragam –seperti Simar yang datang ke pusda’i hari jum’at, kini tujuannya bukan lagi mencari pahala seperti biasanya, yang ia cari sekarang adalah diskon agar kembali untung mendapat banyak laba.
Dorrrrrrr! Simar dibikin kaget oleh Nyi Kunti yang menepuk bahunya dari belakang, ia lihat perut Nyai semakin membuncit karena ulah suaminya si Jin kura-kura yang hobi hura-hura. Simar akhirnya bertanya tempat yang bisa dipakainya buat olah raga padanya, kemudian Nyai mengajaknya kesebuah taman manula. Disana ada sekitar seribu ibu hamil yang sedang senam poco-poco, karena perutnya yang buncit Simar langsung diterima jadi anggota tanpa harus diplonco, kemudian ikut senam disana seharian. Bahkan, sempat ada yang iseng bertanya umur bayi yang dikandung dalam perutnya.
Besoknya ketika akan dites fisik, Simar jadi ragu dirinya berhasil lulus tes lari kali ini, sebab senam lantai kemarin malah membuat perutnya yang buncit jadi melilit sakit, juga karena tiga-botol intisari yang ia teguk tadi pagi sebelum mandi, sebelumnya ia percaya dapat menambah rasa percaya diri. Tetapi, kini malah membuat perutnya yang sakit tak bisa lagi menahan kecipirit dan prettt .. Basah semua.
..........
hawa ngalengka

Sudah tiga minggu semenjak kepergian anak-anak Simar yang merantau ke Alengka, di Klampis Ireng mendadak dang-dut. Sebab kini warga tak perlu lagi begadang menjaga ternak dan kebun mereka, bahkan kini Simar jadi gandrung menelepon Nyi Janda.
Tetapi dari lubuk hatinya yang kecil, ia merasa cemas pada anak-anaknya. Oleh karenanya, dia bermaksud pergi ke Alengka mencari anak-anaknya. Tibalah Simar di Alengka, negeri para raksasa yang sangat berbeda dengan Klampis Ireng tanpa anak-anak Simar. Disana banyak sekali polusi, mulai dari polusi : Udara, suara, mata sampai polusi cepe dan tidur yang dikit-dikit duit.
“Priiiit!! Duit-duit…”
Di Alengka dia bertanya pada setiap penduduk yang berpapasan dengannya, namun semua sia-sia, jawaban tak pernah didapat sedangkan dia kini sudah tak lagi mempunyai apa-apa. Sebab, setiap kali bertanya, dia harus mengikhlaskan barang dan uangnya menjadi milik orang lain. Yang dimilikinya sekarang hanya selembar foto anak-anaknya. Namun, Simar tak pernah gentar, dia akan terus ikhtiar. Tetapi, kini perutnya lapar.
"waduh gimana donk?" keluhnya pada diri sendiri.
Di Alengka akan sangat sulit menemukan orang seperti Pak diman, yang waktu musim kampanye rajin mengundang anak-anak yatim untuk makan gratis di kafenya. Simar jadi kangen Pak diman, setelah terpilih jadi RW, tak pernah lagi dia lihat Pak diman nongkrong di pasar. Lalu, terpikir olehnya untuk membawa Pak diman ke Alengka. Siapa tahu Pak Diman bisa merubah sedikit penampilan Alengka, Pak Diman kan birokrat yang seniman.
Bruuuk!
Perut Simar pun semakin lapar. Tanpa berpikir panjang, dia menghampiri sebuah warteg samping stopan. Dia mau bekerja apa saja untuk mendapatkan makanan. Sebelum sampai kedalam warteg yang penuh sesak itu, di stopan dia melihat anak-anaknya. Mereka menjadi pengamen: Ultraman, Batman, Spideurman dan Suparman. Mata Simar membelalak tak percaya dan tak bisa diam menghitung jumlah anaknya yang lima.
Kurang satu!
Di antara anak-anaknya yang sedang teler aibon itu, tak ia temukan sosok si bungsu Doraemon yang lucu.
Maling! Maling! Teriakan di dalam warteg dan tak lama setelah itu, ia melihat anak bungsunya si Doraemon sedang dikejar-kejar ratusan orang. Di antara mereka yang mengejar, ada yang membawa keris, tombak, panah, dan pistol air! Simar tak percaya, semakin tak percaya ketika ia mengetahui bahwa si bungsu mencuri lem aibon milik Pak Diman!
........
membeli identitas di cihampelas

Kali ini Simar jalan-jalan ke Cihampelas, dia bergelantungan disemua toko yang ia singgahi. Mencoba satu-persatu : Baju-celana-celana dalam-bebe-kalung-kaca mata-sepatu-sandal dan semua yang ia kehendaki, lalu memasukannya ke dalam kantong ajaib Doraemon untuk diaudisi.
Dan tak lupa ia cicipi bermacam dagangan kuliner disepanjang jalan, kesempatan langka dan kebetulan ia memiliki selembar voucher makan gratis sekenyangnya. Tetapi Simar sudah sangat kenyang, akhirnya bermacam jajanan kuliner itu dari mulai berat-ringan sampai berjuta jenis cemilan tak pernah berhasil masuk kedalam perutnya yang telah buncit dengan ketakpastian.
Sebelumnya semua jenis kuliner itu akan disaringnya terlebih dahulu disebuah baskom jingga pemberian Resi Drona, yang dapat meng-diagnosis makan yang asli dan yang telah dimanipulasi, mendeteksi yang sejati dan yang telah ditempel bermacam gengsi.
Dia mengdiagnosa kue ulang tahun sampai pecel lele, mendeteksi surabi sampai ke pizza. Malah akan tampak sangat konyol setiap sebelum makan orang biasa berdoa, dia malah bertanya pada dadar telor yang hendak disantapnya. Didalam mu terkandung nutrisi atau gengsi? Selain itu ia juga telah merubah semua patung-patung dan manequine yang ia temui jadi berwajah seperti anak-anaknya : Spideurman, Batman, Suparman dan Ultraman.
Kemudian Simar nongkrong di Ciwalk, disana ia ditangkap satpam. Rupa-rupanya disana ia telah sampai hati mencuri sebuah gantungan kunci berwajah Semar disebuah toko yang menjual segala macam kreasi anak negeri- Toko purba bercita rasa Eropa milik saudagar kaya asal Malaysia.
Klaimnya Semar saudara kandung mantan suami Isabela, maka si saudagar merasa berhak juga mempromosikan semar-semarnya. Semar dan anak-anaknya yang dipromosikannya lebih sakti dan fanky, tentu saja ternyata yang bertugas memanipulasi seorang seniman handal bernama, Parodi!
..........
tak ada tempat untuk sudara.

Kamis 27-08-09, Simar diundang tajil bareng oleh Bima di BIP. Siangnya (seperti biasa jika ada maunya) tapa-brata di Caringin Tilu, mengiba semoga Kresna sudi meminjamkan uang Rp.50.000,- padanya. Karena tak tega melihat mukanya yang semakin butut juga karena mengingat Simar sebagai teman yang selalu boke, akhirnya dengan iba hati Kresna menyerahkan juga padanya uang belanjaan untuk Nyi Ontosoroh selembar 45ribu. Simar tersenyum manja, langsung dia bergegas kembali ke Klampis Ireng, merenovasi dirinya agar tampak 10 tahun lebih muda, menyikat puncungnya yang putih karena ketombe. Ia kenakan sarung cap dua kurcaci kesayanganya-kemeja krokodil made in Swiss pemberian Ratu Kidul, yang dibeli waktu tamasya ke Pangrango dan tak lupa ia bawa juga keris pemberian Ken Arok yg telah berhasil membunuh Kebo Ijo-sambil dalam hati mengharap dapat memperistri gadis seperti Ken Dedes. Matahari semakin condong ke kiri, dia masih saja sibuk mengapresiasi diri, ia ingin kelihatan funky di depan semua bidadari seperti si Chomsky yang berhasil menggondol Dewi Banowati di acara tek-mi-ot.
Get Out! Teriak ibunya yang sudah tak tahan dengan bau nyong-nyong yang digunakanya .Akhirnya Simar beranjak pergi jalan kaki, menyusuri sawah-mendaki gunung-melewati lembah. Lima menit sebelum adzan dia telah berhasil tiba di BIP, ia disambut ondel-ondel Jepang yang menyanyikan lagu lawas Harry Roesli, didalam para kurawa dan pandawa sedang sibuk berebut posisi tempat duduk, berebut duduk di depan meja yang menyajikan menu tajil spesial -seublak daging naga- yang dipercaya sebagai makanan para dewa dan dapat meningkatkan derajat orang yang memakanya. Sedangkan di dapur para sudra yang sebenarnya lebih menguasai ilmu meracik tanah ikut latah memanfaatkn puasa, berharap uang THR kali ini cukup untuk mmbeli baju baru-Hp baru-mobil baru yang pasti dapat sedikit meningkatkan gengsi ketika memejengkanya waktu pulang mudik ke kampung. Simar tak kebagian tempat, padahal adzan telah berkumandang, para kurawa dan pandawa tak ada yang menghiraukanya, mereka sedang sibuk mengunyah, suara makannya bergemuruh tampak sangat lapar dan rakus! Bahkan kursi dan meja pun telah habis disantap para kurawa dan pandawa menjadi menu cuci mulut mereka. Tak ada tempat untuk Simar dan sudra!
...
Minggu, 15 Mei 2011
?

Nyun, malam itu saya iseng sms-in putra-putri Mang Wisrawa untuk datang kerumah nemenin begadang. Karena tak seperti biasanya nyun, malam itu terasa sepi, serem dan angker sendirian. Belum muncul tulisan message sent, eh..mereka sudah nongol, rupanya gak butuh waktu lama bagi mereka untuk sampai ke rumah sebab kata gosip: mereka beralamat dalam diri, malah ada yang mengatakan jika mereka sebenarnya masih saudara saya. Pusing ya, nyun?
“Mubazir! Hambur bacot, dot.” celetuk si manyun, teman ku.
Menohok! Tanpa celetukannya saya tak mungkin ingat si mubazir. Tetapi memang begitulah catatan ini, penuh kemubaziran dari awal penyusunan huruf pertama sampai akhirnya diposting disini-. “Tapi, mubazir kan temen nya setan.” Kata si manyun. “iyah, gak apa-apa. Kan sering setan jadi temen kita nyun? Lagian ceritanya juga kan ini sedang ditemenin Raksasa-raksasi putra-putri Mang Wisrawa, nyun.” Jawab saya. Maka, tahu diri sudah bersikap mubazir, cepat-cepat saya hibur diri sendiri, masa sudah mubazir lantas harus merasa tak berguna, rugi dua kali dong. Saya anggap si mubazir ini ada gunanya juga. Minimal jadi semacam kentut psikologis, kan kentut itu menyehatkan, iya kan nyun?
Misalnya kamu, Nel (yang sekarang sedang membaca ini ) - “GR, memang ada yang mau baca?” potong si manyun lagi tapi tak saya hiraukan- kebetulan kesasar disini lalu nekat ingin membaca sampai akhir padahal sudah saya beritahu banyak kemudlarotannya, jangan salahkan saya jika kamu kemudian jadi sedikit bingung, migren mu kambuh, kentut tak teratur, waktu mu terbuang percuma, dan tak mendapat apa-apa dari catatan ini. Saya saranin mending cepat klik tanda ‘x’ merah diujung kanan atas atau pindah ke xxx.com kemudian buru-buru istighfar. Karena saya tak mau mengajak kamu -atau siapa pun- pada kemudlarotan.
…….
Bayangkan jika saudara yang beralamat dalam diri itu muncul beneran, nyun. Saya si penakut ini, mana berani ngobrol sama raksasa, yang ada mungkin bakal berak di celana lihat tampang si sulung yang katanya lebih serem dari ‘rajia motor’. Belum lagi dengan potongan si Kumbakarna: raksasa nya para raksasa. Untung saja (Sebentar nyun! meski ini bohongan, tetapi petuah bilang harus bisa untung-untungin diri.) si raksasa tukang tidur itu muat juga masuk kamar saya yang sepi barang elektronik. Dan satu lagi yang tak kalah menyeramkan, adalah si raksasi Sarpakenaka yang kelakuannya lebih serem dari tampang aslinya sindi kendi. Tapi untung lagi, malam itu si cw gatel yang gagal jadi pasangan duet karokean Ramawijaya ini, nampilin dirinya ala selebritis. Lagi-lagi saya untung, nyun. Karena keburu diingetin si bungsu, Wibisana. Coba kalau saya si khilaf, mungkin mau saja di anu-anu si Sarpakenaka sialan.
“Ingat, bung! Jangan terkecoh sama tampilannya yang aduhay. Ingat! Inga! Rajin-rajin lah bersihin mata, agar pandangan gak kecele.” Kata si bungsu yang bijak “Ini, saya bawa obat mata tjap eye produk PT Ngalengka terbaru, mumpung masih promosi. Ayo..! Diobral-diobral!”
Untung lah, saya gak terhasut iklan obat mata ngalengka itu nyun, yang ternyata telah di fatwa haram oleh DepDikMas.
Btw, hati-hati nyun! Sekarang, alat dan metode jebakan si Sarpakenaka sudah canggih-canggih, terakhir ia diketahui menggunakan sebuah situs buat menjebak korbannya. Sebelumnya ia berkedok sebagai miyabi, Sebelumnya lagi sebagai karyawan sebuah bank, sebelum sebelumnya berperan sebagai perempuan imitasi bernama Ica. Dari si bungsu Wibisana saya ketahui juga, jika korban-korban Sarpakenaka biasanya adalah orang atau manusia yang matanya kotokeun. Juga kata si bungsu, mata-mata kotokeun itu disebabkan karena tak pernah dicuci pake obat mata tjap eye, produk PT Ngalengka tadi, nyun.
“Serius dong ah! Sekali-sekali bikin catatan kaya si kendi, ada ilmiah-ilmiahnya dikit.” kata si sulung Rahwana yang sangat sabar membaca curhatan saya.
“Maaf.. Na! Terpaksa saya ajak kalian membaca deretan huruf yang membosankan, memang ribet dan ngerepotin. Tapi ini satu-satunya cara yang saya tahu agar kalian jadi tahu sedikit kebingungan saya, nee.”
“Ya, silahkan kalau mau bingung. Tapi plis, jangan di bagi-bagi, telen sendiri lah!” Kata si Kumbakarna, raksasa penganut individualisme.
“Waduh, salah nge-sms. Harusnya tadi nge-sms penyiar radio, terus minta solusi ribut sama pacar. Malah nge-sms raksasa goblok, yang maunya enak sendiri.”
“Husss….maap, maap kate ye. Gini-gini gue juge tempat curhat nye si Wibisane, taee..” Semprot si Kumbakarna.
“Langsung aje..” Potong si Rahwane “Loh, kok ane jadi ketularan gaye lu, neee?”
“Ini, cepat telen obat ane Kang! Murah meriah.. Ceban aje. Mumpung masih promose.” Sambut si Wibisane pade Kakangnye si Rahwane sambil teriak-teriak kaye kondektur bis di kote.
Si sulung yang sekarang kepalanya menjadi dua -tanda kemarahannya muncul- mlorotin celananya, kemudian maju ke depan panggung menatap kearah penonton sambil nyombongin anu nya. Gawat lah jika si sulung sudah menjadi Dasamuka si kepala sepuluh, karena kata orang kalau kepalanya sudah genap sepuluh maka, anu nya tetep ada satu.
“Elu, na... kita lagi pada bingung elu malah sibuk dagang.” Bentak si sulung yang sekarang kepalanya nambah satu lagi, jadi 2+1=…? “Bukannya bantuin si bebe! Atau minimal beliin dia pulsa.. Gue kesel ame lu, tauk! Kalau bukan ade udeh guwe gebet luh. Produk-produk lu ternyata bohong semua. Tujuh hari muka bisa putih? Pret… udeh habis selosin, tetep aje merah jingge. Muke gileee!”
“Hu’uh.. Kolor elektrik yang gue beli seminggu kemarin juge gak ngaruh ape-ape ke kegantengan gue.” Sambung si Kumbakarna “Maleh, bulu idung gue yang makin manjangin gak karuan, neee….”
Tampak nya dibutuhkan kesabaran ekstra buat nerusin cerita pertengkaran adik-kakak yang memang gak pernah akur dari pas brojol itu nyun, sedang kamu kan tahu saya gak sabaran. Jadi mohon maaf terpaksa diedit langsung ke episode seratus dua puluh –kesimpulan curhatan- Terakhir.
…….
Saya sendirian nyun, merasa tak mampu, lemah dan tak bisa melakukan apa-apa pada apa-apa.
Sore, lewat pesan pendek Nyi Nginel mengeluh merasa sedih-kesal sendirian dan saya tak bisa membantunya untuk sekedar menghibur hati nya. Malam nya, saya mendapat telepon dari seorang teman yang sedang merasa terancam, gerak-geriknya seperti sedang diawasi wewe gombel dan ia sedang dikepung ketakutan, sendirian. Dan Mamah di kamarnya sedang terbaring menahan rasa sakitnya sendirian, juga seorang keponakan harus bisa mengatasi rasa sakit di kakinya karena tabrakan. Saya hanya sibuk mengeluh di dunia maya, tak membantu apa-apa, tak tahu harus melakukan apa, tak mampu mengusir rasa sakit hanya sibuk berkhayal asyiknya jadi dukun, tabib atau minimal jadi dokter.
“Uwaah.. gue banget tuh.” Celetuk si tukang tidur Kumbakarna, si nafsu lawwamah. Penyuka warna hitam, si lambang roh banteng dengan anasir tanah yang bersifat selalu mementingkan diri sendiri. Atau si ‘zhalimii anfusihim’ yang enggan ‘berhijrah’ padahal memiliki kemampuan.
Dan di sana teman ku seorang lagi nyun, mungkin sedang merasa aman atau mungkin sedang di rebus rasa dendam sendirian, dan saya masih belum tahu musti berdiri dimana? Di tengah-tengah nyun? Ditengah-tengah, tak berpihak itu kan sebenarnya sikap berpihak juga. Atau berdiri di pihak yang benar? Tetapi, benar menurut versi siapa, benar versi sendiri, versi teman-teman atau versi hukum? Kalau versi sendiri bisa gawat nyun, sebab kalau sudah begitu maka hanya saya yang benar dan yang lain salah.
“hihi..kamu nyindir ane ye?” Potong si angkara murka, Rahwana. Raksasa penyuka warna merah yang berlambang roh harimau dengan anasir api, si nafsu amarah yang ingin menang sendiri dan bercita-cita menguasai dunia.
Atau Berpihak pada benar nya orang banyak? Tetapi benar nya orang banyak kadang kan adalah bentuk subjektif yang disepakati diobjektif-objektifkin. Atau berpihak pada hukum, yang kadang malah tak kalah ruwetnya nyun, karena hukum juga punya versi-versi sendiri juga nyun, hukum versi yang ini atau yang itu? Akhirnya saya nyun, hanya bisa duduk di kamar tenggelam dengan perasaan-perasaan sendiri. Bertanya-tanya, hu’uhkah kita benar-benar bisa merasakan perasaan di luar perasaan diri kita sendiri, nyun?
Saya tak mampu nyun, untuk mengatasi problem-problem pribadi saja masih sering keder. Saya masih butuh bantuan dan pertolongan, masih suka mengharap pada kekuatan-kekuatan bikinan. Saya sekarang benar-benar merasa sendirian, nyun. Tak memiliki kenalan dokter yang bisa ditelpon malam-malam dan sudi cape-cape datang kerumah untuk ngobatin mamah dan keponkan, tak memiliki kerabat berpangkat atau minimal sosok ayah yang memberi perlindungan, ada sih tetangga seorang anggota dewan tetapi sama sekali tak bisa diharapkan, nyun. Lalu kepada siapakah saya bisa mengadu nyun?
Melihat mamah menangis merintih menahan sakit. Saya merasa juga sakit meski kadarnya jauh lebih kecil di banding sakit yang dirasa mamah, tetapi lumayan dibanding kakak saya yang khusu dengan hape blekberinya. Saya malah sakit menyaksikan itu nyun, kok bisa kaka saya hare-hare? “huh..mbagusi!” komentar si manyun. Sambil memijat-mijat telapak kaki mamah, saya membisiki si rasa sakit. “Kit, maen yuk! Jangan ngurung saja di tubuh mamah saya, mending ikut saya, kita ngeliwet di pos kamling bareng bapak-bapak linmas! Ganteng-ganteng loh..”
Pikiran kemudian mengembung, saya mencoba menjadi keponakan yang harus dipijiti dokter urut seminggu sekali karena tulang paha kanan nya keluar jalur dan ternyata saya tak sanggup, nyun. Belum lagi jika ada diposisi teman yang sedang di kepung rasa takutnya. Nyali saya ciut nyun, pada masalah yang jadi jatah nya. Namun betapa sombong nya saya, ketika menganggap remeh masalah yang ada perkara hukum nya.
“Uwihh…ngeri Mas. Urusan sama Hansip Ngamarta, bisa di copot-copot, idung, tangan, anu kita Mas..” kata si Sarpakenaka, si nafsu sufiah penggemar birahi. Warna paporit nya kuning, lambang roh nya ular naga anasir nya air.
Sarpakenaka, perempuan itu benar-benar mirip kamu. Dihatinya tumbuh subur amarah mu, Dasamuka. sifatnya mencerminkan elu, Kumbakarne. Tetapi sosok nya seelok kamu, Wibisana.
Tertip…uuu!
“Salah sendiri, mau same adik ane.” Kata si Dasamuka “Emang susah ya cari manusia yang manusia?”
Saya insyafi diri untuk mencoba melihat masalah itu dari beberapa sudut, karena gak bisa hanya menyalahkan si Ica (nama samaran Sarpakenaka di fb, yang berhasil menjebak Mang Umar dan Mas Udin –nama disamarkan- kedalam hubungan carangan) itu juga kan ada hubungannya dengan ketakmampuan si umar dan udin mengantisipasi diri nya sendiri. “coba kalau tahu ia raksasi pasti mikir tujuh kali . Tetapi memang Sarpakenaka kan ahli mencopot celana dan dengan mantranya orang bisa dibikin kebelet lalu membabi buta ingin mencopot segalanya sebagai manusia sampai setelanjang-sebinatangnya sampai berubah fungsi dirinya, malah orang bisa dibikin rela mencopot sendiri pakaian kemanusiannya demi Sarpakenaka? kata si manyun teman ku” Maka saya berkesimpulan si ini gak sepenuh nya salah, si itu juga gak bisa sepenuhnya benar. Karena meski drama ini bergenre badani (untuk tak menyebut hewani) –karena penuh adegan tunggang-menunggang dan mangsa-memangsa-, mereka (juga saya) tetap lah manusia, yang sedang berproses menjadi manusia meski kini sedang ‘khilaf’ dengan kemanusiaan, dan bukankah kamu juga tahu menjadi manusia itu lebih penting dibanding menjadi baju-baju profesi yang terlanjur kita anggap sebagai jati diri, nyun?
“Waduh, ribet ya?” kata si Kumbakarna “Seharus nya kan, yang salah ya si salah. yang benar ya pasti, saya!”
Memang susah melacak si salah jika langkah hanya berhenti pada kata, apalagi percaya begitu saja pada pandangan mata yang kadang tak bisa dibedakan yang kotokeun dengan yang belekan. Lebih ribet lagi karena saya nyun, tak memiliki kesanggupan menganggap si salah sebagai bagian dari diri saya sendiri. Mungkin si salah bukan ia, dia, mereka tetapi saya dan cara saya memandang mereka. Namun karena terbiasa dan dibiasakan mengotak-atik pembenaran-pembenaran yang saya kompromi-in sebagai sibenar akhirnya saya sering merasa tak bersalah.
Maka malam itu sambil memesrai keresahan teman di telepon diam-diam saya tebak si teman pasti sedang merasa serba salah juga seperti saya, mau kesini salah - kesana salah, begini salah, mau menutup telepon juga salah. Alur hidupnya keluar jalur, kerjaan nya terbengkalai dan saya hanya bisa menyalahkannya.
Saya tak mempunyai kebesaran Kumbakarna yang celah-celah basah ketek nya bisa dijadikan tempat untuk berlindung, saya tak memiliki akses dengan kekuatan Rahwana yang berkuasa di Ngalengka untuk bisa saya pamer-pamerkan, lingkaran kekuasaannya bisa menjadi jimat yang tersimpan dalam dompet yang saya bawa kemana-mana sehingga saya bisa melanggeng ‘aman’ di jalanan, bahkan kalau mau saya bisa seenaknya menyerobot ‘lampu-lampu merah’ tanpa merasa salah, karena sebagai kerabat pejabat anu saya menyangka akan merasa aman-aman saja meski telah melanggar ini-itu. Saya tak memiliki akses dengan pengaruh Sarpakenaka yang mampu menggerogoti jiwa manusia dan sanggup membeli manusia tidak saja fikiran dan jiwa, namun semua yang dimiliki harus ikut menghamba padanya.
Nyata nya sekarang saya sendirian di kamar nyun, merasa tak mampu, lemah dan tak bisa melakukan apa-apa. Kepada siapakah saya musti mengharap bantuan? Kekuatan macam apakah yang benar-benar mampu melepaskan teman saya dari jeratan masalah yang bagai raksasa-raksasi menyeramkan, sehingga patut kita datangi untuk menggabungkan diri dan memohon pertolongan?
“Sugan hayang siga Simbah Kenun maneh, be?” Celetuk si bungsu, Wibisana. Satu-satu nya putra Mang Wisrawa yang manusia, berlambang roh Burung Garuda, si nafsu Mutmainah nafsu suci yang cenderung mengajak mendekati Tuhan.
Langganan:
Entri (Atom)
